Aparat keamanan sedang bereaksi atas teror Nurdin M. Top yang bersembunyi di tempat yang tak terduga. Keberadaanya bahkan tidak akan diketahui kebanyakan "pengikutnya". Itu pasti karena "jaringan" ini bekerja dengan sistem sel.
Teror bertujuan menciptakan chaos. Jika malapetaka itu terjadi negeri ini akan menjadi "Pakistan" kedua. Masyarakat akan terpecah sesuai identitas SARA dan ideologi. Kecurigaan satu pihak pada pihak lain.
Misal, seseorang akan curiga jika seseorang berjubah dan berjenggot. Akan ada stigma, dan seseorang akan mengasosiasi surban dengan terorisme, persis seperti seseorang yang dipenuhi tattoo dan rambut gimbal dengan tindakan kriminal.
Dalam situasi seperti ini, tentu saja banyak yang pro dan sebaliknya ada yang jadi korban. Masyarakat dilanda kontroversi, dan pada saat yang paling kritis, akan siap "tawuran" satu sama lain. Setidaknya itulah yang terjadi di Pakistan.
Chaos di Pakistan secara geopolitik adalah impor dari pergolakan Afghanistan. Demikian juga di Indonesia kaitannya sangat jelas dengan pergolakan Timur Tengah dan Afghanistan.
Tahun 60-an, Indonesia juga punya pola yang hampir sama. Pergolakan Soviet-Amerika, atau Sosialis-kapitalis tidak pelak ikut memecah belah dan membuat revolusi paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Jika anda melihat dua hal itu terlepas dari ideologi manapun, akan sangat jelas dan sederhana menjadi "tawuran fans MU lawan fans Chelsea". Tidak lebih.
Dan bayangkan korbannya ribuan orang.
Apakah tidak tampak aneh, jika karena anda fans Chelsea dan ketika Chelsea di "curangi" di semi final Champion Cup, lalu anda menyerang tetangga anda seorang fans Barcelona FC?
Demikian sebuah perbandingan.
Sangat banyak kerugian buat umat manapun di negeri ini jika ikut terpancing pola "permainan" terorisme. Sesungguhnya tidak hanya Nurdin M. Top yang perlu di khawatirkan, tetapi siapa saja yang melakukan provokasi. Karena tindakan over acting dan pernyataan-pernyataan yang tidak produktif satu tokoh masyarakat atau pun pejabat, tetapi menimbulkan sakit hati dan kebencian masyarakat yang tidak terlibat "tawuran" itu, justru akan memperuncing masalah. Tidak hanya itu, sesungguhnya, tindakan "konyol" itu, provokasi suatu tokoh masyarakat kelompok sosial yang lain, justru yang dinantikan oleh otak intelektual terorisme. Selanjutnya siapapun bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya: "Pakistan jilid 2".
Jangan sampai terjadi, karena jika itu sampai terjadi tebak siapa yang menang: otak intelektual pelaku teror!
Sekali lagi: tujuan teror adalah menciptakan chaos.
Mudah-mudahan kita semakin bijak menyikapi segala kejadian. Saya berharap memiliki dunia yang lebih nyaman untuk ditinggali, anak anak memiliki masa depan di negeri yang bergelar: Zamrud Khatulistiwa.
Mari kita wujudkan bersama. Salam damai.
Teror bertujuan menciptakan chaos. Jika malapetaka itu terjadi negeri ini akan menjadi "Pakistan" kedua. Masyarakat akan terpecah sesuai identitas SARA dan ideologi. Kecurigaan satu pihak pada pihak lain.
Misal, seseorang akan curiga jika seseorang berjubah dan berjenggot. Akan ada stigma, dan seseorang akan mengasosiasi surban dengan terorisme, persis seperti seseorang yang dipenuhi tattoo dan rambut gimbal dengan tindakan kriminal.
Dalam situasi seperti ini, tentu saja banyak yang pro dan sebaliknya ada yang jadi korban. Masyarakat dilanda kontroversi, dan pada saat yang paling kritis, akan siap "tawuran" satu sama lain. Setidaknya itulah yang terjadi di Pakistan.
Chaos di Pakistan secara geopolitik adalah impor dari pergolakan Afghanistan. Demikian juga di Indonesia kaitannya sangat jelas dengan pergolakan Timur Tengah dan Afghanistan.
Tahun 60-an, Indonesia juga punya pola yang hampir sama. Pergolakan Soviet-Amerika, atau Sosialis-kapitalis tidak pelak ikut memecah belah dan membuat revolusi paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Jika anda melihat dua hal itu terlepas dari ideologi manapun, akan sangat jelas dan sederhana menjadi "tawuran fans MU lawan fans Chelsea". Tidak lebih.
Dan bayangkan korbannya ribuan orang.
Apakah tidak tampak aneh, jika karena anda fans Chelsea dan ketika Chelsea di "curangi" di semi final Champion Cup, lalu anda menyerang tetangga anda seorang fans Barcelona FC?
Demikian sebuah perbandingan.
Sangat banyak kerugian buat umat manapun di negeri ini jika ikut terpancing pola "permainan" terorisme. Sesungguhnya tidak hanya Nurdin M. Top yang perlu di khawatirkan, tetapi siapa saja yang melakukan provokasi. Karena tindakan over acting dan pernyataan-pernyataan yang tidak produktif satu tokoh masyarakat atau pun pejabat, tetapi menimbulkan sakit hati dan kebencian masyarakat yang tidak terlibat "tawuran" itu, justru akan memperuncing masalah. Tidak hanya itu, sesungguhnya, tindakan "konyol" itu, provokasi suatu tokoh masyarakat kelompok sosial yang lain, justru yang dinantikan oleh otak intelektual terorisme. Selanjutnya siapapun bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya: "Pakistan jilid 2".
Jangan sampai terjadi, karena jika itu sampai terjadi tebak siapa yang menang: otak intelektual pelaku teror!
Sekali lagi: tujuan teror adalah menciptakan chaos.
Mudah-mudahan kita semakin bijak menyikapi segala kejadian. Saya berharap memiliki dunia yang lebih nyaman untuk ditinggali, anak anak memiliki masa depan di negeri yang bergelar: Zamrud Khatulistiwa.
Mari kita wujudkan bersama. Salam damai.
Tags:
Politik