Tulisan ini adalah curhat pribadi. Tidak untuk provokasi, tidak ada
tendensi kearah pembunuhan karakter dan tidak berniat melanggar KUHAP.
Syukurlah, negeri ini dianugerahi demokrasi yang memungkinkan orang seperti saya
bisa berteriak tentang apa yang saya mau, apa yang saya rasa dan apa yang saya
fikirkan? Catatan ini murni refleksi, tidak berniat
mempengaruhi opini.
Jadi selamat membaca fikiran saya.
Apa yang dilakukan calon presiden waktu kampanye, adalah: berjanji
untuk membuat perubahan, tentunya ke yang lebih baik.Setidaknya itu
yang kita saksikan pada debat Capres baru-baru ini.
Berjanji. Saya berjanji akan membahagiakan seseorang yang saya cintai.
Janji dalam waktu adalah: masa depan, nanti dan adanya besok. Sedang apa yang kita
sekarang miliki adalah hari ini dan kemarin. Besok, siapa yang tahu apa yang bisa kita raih? Besok siapa yang bisa menjamin saya bisa membahagiakan orang yang saya cintai?
Ada sempalan sosialis di negara Amerika latin yang memerangi pemerintahan yang korup berhasil menang. Malangnya setelah mereka menjadi rejim, tidak tahu cara mengurus ekonomi yang rumit itu. Lalu mereka mengundurkan diri, dan memberi kekuasaan pada orang yang lebih ahli. Mereka ingin membuat negaranya lebih baik, tapi tidak tahu caranya.
Baiklah kita semua percaya calon pemimpin kita yang akan berbuat
sesuatu untuk negeri ini. Tapi siapa yang paling tahu caranya?
Ibu Mega, pak JK, dan Pak SBY telah membuktikan diri.
Ibu Mega pernah jadi Presiden, demikian dengan SBY-JK. Artinya
untunglah kita tidak sedang membeli kucing dalam karung.
Itu karena demokrasi.
Kita memilih demokrasi karena lebih baik dari sistem lain. Tapi tidak
semua hasil yang diperoleh selalu lebih baik buat suatu bangsa. Hitler
adalah produk demokrasi bagi Jerman, demikian juga Slobodan Milosevic. Mereka adalah contoh negatif demokrasi, tidak baik. Meski begitu saya tidak terlalu setuju dengan
logika: satu suara insan kamil, manusia hebat lebih baik dari suara seribu domba,
tetapi kita juga harus terus lebih pintar memutuskan pilihan.
Sayangnya ketiga Capres kita berkarir ketika Indonesia tengah terpuruk.
Artinya, siapapun yang jadi pemenangnya adalah pemimpin yang
baik buat negeri ini. Perbedaanya adalah karakter masing masing
berbeda. Jika ingin pemimpin yang penuh kasih sayang, dan didukung
ekonom hebat, itulah SBY-Budiono, jika ingin yang loyal kepada bangsa,
nasionalis pilihannya jelas Mega Prabowo, dan jika ingin masalah
ekonomi ingin cepat ditangani, pilihannya adalah JK Wiranto.
Atau jika ingin golput seperti temanku Jimmy pilihannya adalah 3 hari
liburan keluar kota. Terserah anda khan?
tendensi kearah pembunuhan karakter dan tidak berniat melanggar KUHAP.
Syukurlah, negeri ini dianugerahi demokrasi yang memungkinkan orang seperti saya
bisa berteriak tentang apa yang saya mau, apa yang saya rasa dan apa yang saya
fikirkan? Catatan ini murni refleksi, tidak berniat
mempengaruhi opini.
Jadi selamat membaca fikiran saya.
Apa yang dilakukan calon presiden waktu kampanye, adalah: berjanji
untuk membuat perubahan, tentunya ke yang lebih baik.Setidaknya itu
yang kita saksikan pada debat Capres baru-baru ini.
Berjanji. Saya berjanji akan membahagiakan seseorang yang saya cintai.
Janji dalam waktu adalah: masa depan, nanti dan adanya besok. Sedang apa yang kita
sekarang miliki adalah hari ini dan kemarin. Besok, siapa yang tahu apa yang bisa kita raih? Besok siapa yang bisa menjamin saya bisa membahagiakan orang yang saya cintai?
Ada sempalan sosialis di negara Amerika latin yang memerangi pemerintahan yang korup berhasil menang. Malangnya setelah mereka menjadi rejim, tidak tahu cara mengurus ekonomi yang rumit itu. Lalu mereka mengundurkan diri, dan memberi kekuasaan pada orang yang lebih ahli. Mereka ingin membuat negaranya lebih baik, tapi tidak tahu caranya.
Baiklah kita semua percaya calon pemimpin kita yang akan berbuat
sesuatu untuk negeri ini. Tapi siapa yang paling tahu caranya?
Ibu Mega, pak JK, dan Pak SBY telah membuktikan diri.
Ibu Mega pernah jadi Presiden, demikian dengan SBY-JK. Artinya
untunglah kita tidak sedang membeli kucing dalam karung.
Itu karena demokrasi.
Kita memilih demokrasi karena lebih baik dari sistem lain. Tapi tidak
semua hasil yang diperoleh selalu lebih baik buat suatu bangsa. Hitler
adalah produk demokrasi bagi Jerman, demikian juga Slobodan Milosevic. Mereka adalah contoh negatif demokrasi, tidak baik. Meski begitu saya tidak terlalu setuju dengan
logika: satu suara insan kamil, manusia hebat lebih baik dari suara seribu domba,
tetapi kita juga harus terus lebih pintar memutuskan pilihan.
Sayangnya ketiga Capres kita berkarir ketika Indonesia tengah terpuruk.
- Megawati adalah tokoh berlatar belakang sosialis dan
nasionalis. Nasionalis maksudnya bisa berarti melindungi kepentingan
nasional dari neo liberalisme. Partainya mengakar pada masyarakat
pedesaan yang bersentuhan langsung dengan sejarah kedigdayaan Bung
Karno. Dan image yang dibangun adalah kerakyatan jelata. Setidaknya
itu yang bisa diartikan dari Bantar Gebang.
Pada masa kepemimpinannya, Ibu Mega berhasil mengatasi kehancuran akibat krisis moneter yang menerpa Asia Tenggara.
Uniknya, Budiono yang menjadi salah satu aktor intelektual yang sangat
berperan mengatasi agar tidak jauh terpuruk sekarang telah menjadi
Cawapres SBY. Tentu saja semuanya tidak hanya tentang Pak Budiono,
orang orang disekitar Ibu Mega masih banyak ekonom jenius yang lain.
Sekarang Ibu Mega memiliki Prabowo, artinya latar belakang militernya
akan berguna. Disiplin dan kerja keras cara militer dalam banyak hal
memberi warna positif. Tidak ada negara maju tanpa disiplin kuat - Pak SBY adalah orang yang nyaman, setidaknya menurut saya. Di
jamannyalah hampir semua pergolakan, dan konflik
horizontal diredam, hebatnya lagi tanpa operasi militer. SBY memiliki wibawa lebih dari dua Capres
lainnya.
Di masa SBY pula Indonesia dirundung duka. Tidak lama masa
kepemimpinannya, Aceh dilanda Tsunami, Gempa di Papua, lumpur
Sidoarjo. Tetapi bodoh menurut saya menganggap SBY tidak
direstui alam, Dewa atau Tuhan. Mata bijak mengartikan, untunglah Pak
Susilo B Yudoyono jadi presiden ketika kejadian itu, anda boleh
bilang, untung bukan Gusdur atau Ibu Mega. Pak SBY punya hati yang
lebih halus, dan tidak segan segan terjun kelapangan melihat kejadian
dengan mata kepala sendiri. Pak SBY tidak menghadiri undangan penting
dari pemimpin dunia ketika masalah besar terjadi. Dan ia juga tidak
pergi berlibur ke Hongkong bersama keluarga. Ia disini turut berduka
dikala bangsa sedih dan turut gembira disaat anak bangsa berprestasi.Tidak ada Presiden yang bisa menyamai karakter Pak SBY sepanjang hidup
saya.
Kesamaaan kasus dengan Ibu Mega, jika pak Budiono, ekonom
jempolan itu berada bersama Pak SBY, maka Pak JK, pekerja keras yang
sangat berperan membuat perdamaian di Aceh, Poso dan Ambon tidak lagi
bersama SBY. JK membuat kubu sendiri. - Pak JK orang paling gesit diantara ketiga Capres lainnya,
dan juga yang paling cerdik. Bila pak JK tampil sebagai pemenang maka
perubahan yang cepat dan lebih baik segera tercipta di negeri ini.
Lebih cepat dari Pak SBY atau Ibu Mega. Pak JK yang berdarah Sulawesi
diwarisi jiwa kepemimpinan Bugis. Sejarah telah mencatat warna Bugis
dalam kerajaan Melayu nusantara. Budi Utomo keturunan Bugis.
Pak JK yang paling mengerti ekonomi dalam prakteknya dari dua
Capres lainnya.
Artinya, siapapun yang jadi pemenangnya adalah pemimpin yang
baik buat negeri ini. Perbedaanya adalah karakter masing masing
berbeda. Jika ingin pemimpin yang penuh kasih sayang, dan didukung
ekonom hebat, itulah SBY-Budiono, jika ingin yang loyal kepada bangsa,
nasionalis pilihannya jelas Mega Prabowo, dan jika ingin masalah
ekonomi ingin cepat ditangani, pilihannya adalah JK Wiranto.
Atau jika ingin golput seperti temanku Jimmy pilihannya adalah 3 hari
liburan keluar kota. Terserah anda khan?
Tags:
Politik