Getah Nurdin.

Hukum Newton: "Setiap aksi akan mengakibatkan reaksi yang sama besarnya."



Tidak hanya berlaku pada dunia fisika, lebih jauh, dalam ilmu sosial juga berlaku.
Ketika Amrozi cs. meledakkan bom di Bali, sejak saat itu Bali berbenah menguatkan identitas lokal dan juga budaya, menguatkan perenialisme. Bali yang sejatinya terbuka dan toleran seolah alergi hal yang berbau "syariah". Mereka bisa jadi curiga dan menolak membahas undang-undang pornografi dan pornografi, karena yakin sebagai bentuk lain penerapan syariah terselubung.


Persisnya ini adalah islamphobia, energinya bereaksi berbanding sama dengan bom bali.



Kini setelah teror bom berulang kali terjadi, dan kasus paling mutakhir, bom JW. Marriot jilid 2, media dan cyber adalah cermin paling akurat untuk melihat sejauh mana teror bom mempengaruhi masyarakat indonesia. Anda boleh luangkan waktu melihat Q/A di yahoo.answer.



Dan kemarin, saat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Semarang, seorang Pangdam Diponegoro, Mayjend Haryadi, menurut berita, "meminta masyarakat agar secepatnya melapor ke aparat jika melihat orang berjubah dan berjenggot dengan perilaku mencurigakan."


Pernyataan itu sangat disayangkan, karena selain tidak pada kapasitasnya (seharusnya tugas kepolisian), semua orang pun tahu, Nurdin M. Top tidak mengenakan jubah, dan seorang pahlawan Pangeran diponegoro mengenakan jubah di foto yang seharusnya terpajang disana, di kantornya.



Jika menurut sebagian kalangan menilai itu adalah lelucon, sungguh itu adalah fakta sebagai reaksi atas apa yang dilakukan Nurdin M. Top.



Umat islam dicurigai, orang yang taat beribadah dicurigai, mungkin berikutnya psantren dan mesjid ditanam kamera pengintai. Sekali lagi, itu adalah reaksi atas Nurdin M. Top.



Jika nurdin seorang pejuang sejati islam (mujahid) ia harus bisa berhitung langkah-langkahnya, dengan pertanyaan: "Apakah jika bom diledakkan seorang "mujahid" di JW. Marriot maka umat islam di indonesia akan lebih baik?"



Bolehkah saya bertanya seperti ini:
Apakah anda setuju bahwa Indonesia bukan negara islam? Bukan pula negara Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Tao, dan bukan negara agama yang dipercaya Permadi SH? Jika bukan, lalu negara ini milik agama mana? Tidak ada? Atau milik atheis?



Saya percaya akan lebih baik, negara ini menjadi negara Islam, sekaligus negara Kristen, negara katolik, negara Hindu dan negara Budha dalam satu wadah Bhinneka Tunggal Ika.



Lebih baik, karena negara ini "milik kita", bukan "tidak milik kita". Maka beri hak kepada umat Budha apa yang mereka mau, beri fasilitas pada Konghucu seperti apa hidup yang mereka mau. Begitupun pada Nasrani dan Islam. Saya kira jika semua orang mendapat yang ia mau, maka ia akan bahagia.



Sederhana, tapi detailnya sangat komplicated. Secara umum kita memiliki undang-undang yang seharusnya bisa kita rubah atau tambah agar lebih baik dengan syarat atas musyawarah masyarakat indonesia.
Undang-undang apapun selagi bukan buatan Tuhan akan lebih baik jika dikembangkan untuk kebaikan bersama. Undang undang itu seperti rambu lalulintas, tujuannya agar tidak terjadi kecelakaan di lampu merah dan agar ada aturan yang dipatuhi. Seperti tadi, itu adalah garis besar dan detailnya sangat rumit. Satu hal perlu diingat, mengutip Mar'i Muhammad, "Setan berkutat di detail". Tapi saya kira hanya dengan cara itu kita semua bisa betah dalam satu rumah Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Saudara pemeluk agama Kristen, Katholik, Hindu dan budha, saudara saya seiman, Islam, ini adalah negara anda, negara kita. Jangan sampai seorangpun mengusik anda atau berhajat mengusir anda dari negeri ini, karena orang seperti itu harus kita lawan.



Selamat ulang tahun Republik Indonesia ke-64. Semoga rakyat indonesia lebih dewasa menyikapi semua kejadian.



Lihat juga:
Puasa Kapitalis..
Bazonggier

Bazonggier is a site where you find unique and professional blogger templates, Improve your blog now for free. Kapan Nikah?

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama