Indonesia Merdeka?

Hari ini, 64 tahun yang lalu, saat bumi ini berada di titik kordinat yang sama, dan menghadap tepat ke matahari yang sama. Terdengar suara riuh, gegap gempita membahana sampai titik terjauh yang dicapai oleh frekuensi radio.



Tidak ada yang bisa memastikan sejauh mana gaung itu mencapai ujung radius, tapi yang pasti, energinya sangat besar sekali hingga kota sekelas Neitherland, New York, Beijing, Kairo, New Delhi hingga Moskva menjadi heboh.



Sebuah kata yang seragam bergemuruh dari Sabang sampai Merauke: Merdeka! Freedom!
Tidak banyak negeri yang gagah berani meneriakkan kata: Merdeka, disaat kolonialisme semakin canggih. Tapi Indonesia, bisa.



Hari ini 64 tahun yang lalu dalam bayanganku adalah hari yang sangat simpel, sederhana. Hanya ada dua warna: Merah dan Putih. Hanya ada dua wajah manusia: Teman dan musuh. Lalu hari hari berikutnya adalah hari yang panjang. Anak negeri ini tidak hanya bisa berujar: Merdeka! Mereka adalah orang-orang hebat yang bertindak bertanggung jawab bahwa perkataan adalah sumpah. Berani merdeka, berani berkorban nyawa. Tampaknya hanya itu satu satunya cara agar musuh bisa menghargai keberadaan negeri ini.



Hari ini 64 tahun yang lalu, banyak darah tertumpah di bumi pertiwi hanya karena ingin agar masa depan anak negeri ini bebas dari penindasan. Mereka tidak ingin orang orang seperti kita, saya dan anda dipaksa membangun jalan tanpa diberi makan yang layak, lalu mati sengsara diterpa terik matahari dan dikubur massal seperti sampah. Mereka ingin agar orang seperti anda bisa duduk dibelakang meja menghadap komputer mengenakan baju yang layak dan bisa mendapat gaji dari hasil keringat anda.
Mereka adalah orang bijaksana, bapak dari nenek kita, ingin agar orang seperti kita 64 tahun kemudian bebas dari penindasan keji seperti yang mereka alami itu. Mereka punya dunia yang akan diwariskan buat anak dan cucu. Mereka percaya mimpi itu.



Hari ini sesudah 64 tahun berlalu, seseorang pantas memberi hormat pada keluarganya yang telah gugur. Sangat bijaksana jika hari ini meluangkan waktu beberapa menit menghadap bendera merah putih memberi hormat pada orang baik seperti mereka.



Pantas di ingat karena tidak semua orang mau berkorban tanpa pamrih untuk kebaikan. Bagi negeri ini, jelas tidak ada yang bernama Indonesia merdeka tanpa orang seperti mereka. Demikianlah tindakan yang pantas seorang cucu adalah mengenang dan menghormati mereka.



Hari ini 64 tahun berlalu, matahari itu adalah matahari yang sama, mata yang menatap dua warna yang sederhana: merah dan putih. Tetapi hari ini tidak sesederhana yang dibayangkan para pahlawan kita. Tidak hanya ada dua warna: merah putih, kini ada warna abu-abu. Peringatan Hari Proklamasi 1945 terusik oleh pelaku teror.



Meski begitu, kita tetap merayakannya.
Hiduplah Indonesia Raya! Merdeka!
Bazonggier

Bazonggier is a site where you find unique and professional blogger templates, Improve your blog now for free. Kapan Nikah?

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama