Pernyataan resmi yang ditunggu-tunggu banyak pihak akhirnya datang juga. Berdasarkan hasil test DNA, Mabes Polri mengumumkan jenazah yang tewas di Temanggung adalah Ibrohim, penata bunga (florish) di Ritz Carlton,
bukan Nurdin M. Top. Berita itu sebetulnya sudah bocor ke media dan televisi Al-Jazeera, televisi yang paling populer dari Timur Tengah beberapa hari sebelumya telah melansir hasil test itu.
Brigjend Polisi Eddy Saparwoko, kepala DVI Mabes Polri dalam konfrensi pers di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, rabu 12 Agustus 2009 menjelaskan, "Setelah dibandingkan hasil DNA dengan keluarga Cilimus, isteri dan kedua putra serta putrinya, hasilnya 100% almarhum adalah Ibrahim."
Cilimus terletak di kaki gunung Ciremai hanya beberapa kilometer dari kota Kuningan, Jawa-Barat, tidak jauh dari situs nasional Linggar Jati. Tempat MoU Indonesia-Belanda yang dikenal dengan Perundingan Linggar Jati. Cilimus masih bagian dari Kota Madya Kuningan. Ibrahim lahir di Kuningan, ngebom di Kuningan dan tewas di Temanggung.
Pernyataan selanjutnya dari kepolisian, bahwa berdasarkan test DNA pembanding kedua dari pihak keluarga Nurdin M. Top di Johor Bahru, Malaysia, Cilacap dan Klaten tidak sesuai, sehingga korban yang tewas pasti bukan Nurdin M. Top.
Dari uji DNA terhadap serpihan tubuh pelaku pengeboman di JW. Marriot polisi mengunkapkan nama pelakunya adalah: Dani Permana.
"Kondisi tubuhnya memprihatinkan. Satu satunya identifikasi adalah dengan DNA. 100% hasilnya cocok", demikian kata Eddy.
Polisi juga menyatakan bahwa korban tersangka teroris yang ditembak di Jati Asih Bekasi adalah: Eko Sarjono dan Air Setiawan.
Dari pernyataan resmi itu maka terkuaklah fakta bahwa, pelaku intelektual teror bom di beberapa tempat di Indonesia, Nurdin Moh. Top masih hidup dan berada ditempat yang tidak diketahui.
Sekali lagi seseorang harus mengakui bahwa Nurdin M. Top memang licin.
Meskipun demikian, pekerjaan polisi patut didukung.
Patut dibaca:
Getah Nurdin M. Top..
bukan Nurdin M. Top. Berita itu sebetulnya sudah bocor ke media dan televisi Al-Jazeera, televisi yang paling populer dari Timur Tengah beberapa hari sebelumya telah melansir hasil test itu.
Brigjend Polisi Eddy Saparwoko, kepala DVI Mabes Polri dalam konfrensi pers di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, rabu 12 Agustus 2009 menjelaskan, "Setelah dibandingkan hasil DNA dengan keluarga Cilimus, isteri dan kedua putra serta putrinya, hasilnya 100% almarhum adalah Ibrahim."
Cilimus terletak di kaki gunung Ciremai hanya beberapa kilometer dari kota Kuningan, Jawa-Barat, tidak jauh dari situs nasional Linggar Jati. Tempat MoU Indonesia-Belanda yang dikenal dengan Perundingan Linggar Jati. Cilimus masih bagian dari Kota Madya Kuningan. Ibrahim lahir di Kuningan, ngebom di Kuningan dan tewas di Temanggung.
Pernyataan selanjutnya dari kepolisian, bahwa berdasarkan test DNA pembanding kedua dari pihak keluarga Nurdin M. Top di Johor Bahru, Malaysia, Cilacap dan Klaten tidak sesuai, sehingga korban yang tewas pasti bukan Nurdin M. Top.
Dari uji DNA terhadap serpihan tubuh pelaku pengeboman di JW. Marriot polisi mengunkapkan nama pelakunya adalah: Dani Permana.
"Kondisi tubuhnya memprihatinkan. Satu satunya identifikasi adalah dengan DNA. 100% hasilnya cocok", demikian kata Eddy.
Polisi juga menyatakan bahwa korban tersangka teroris yang ditembak di Jati Asih Bekasi adalah: Eko Sarjono dan Air Setiawan.
Dari pernyataan resmi itu maka terkuaklah fakta bahwa, pelaku intelektual teror bom di beberapa tempat di Indonesia, Nurdin Moh. Top masih hidup dan berada ditempat yang tidak diketahui.
Sekali lagi seseorang harus mengakui bahwa Nurdin M. Top memang licin.
Meskipun demikian, pekerjaan polisi patut didukung.
Patut dibaca:
Getah Nurdin M. Top..
Tags:
Politik